Search

Ini Kata Wali Kota Malang Soal Polemik Imbauan Non-Muslim Tak Makan, Minum, Rokok Secara Demonstratif - KOMPAS.com

MALANG, KOMPAS.com - Imbauan Wali Kota Malang yang meminta warga non-muslim untuk tidak makan, minum dan merokok secara demonstratif selama Bulan Ramadhan menuai polemik.

Imbauan itu dinilai berlebihan sebab Kota Malang dikenal kondusif dan kerukunan antar umat beragama sudah terjalin kuat.

Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Pendeta David Tobing menilai kata demonstratif berlebihan karena Kota Malang dikenal sebagai kota yang toleran terhadap umat beragama.

"Mengenai imbauan, menurut saya pribadi tidak ada masalah namanya saja imbauan dari kepala daerah itu hal wajar. Hanya pemilihan kata demonstratif dan beberapa aturan ini yang agak berlebihan mengingat Kota Malang sangat toleran dan kondusif selama ini," katanya kepada Kompas.com, Selasa (7/5/2019).

Baca juga: Pemkot Malang Imbau Non-Muslim Tidak Makan, Minum, dan Rokok Secara Demonstratif

Imbauan yang disampaikan melalui surat pengumuman Nomor 4 tahun 2019 tentang menyambut dan menghormati Bulan Suci Ramadhan 1440 H/2019 M itu dinilai dapat menimbulkan multi tafsir.

"Seolah-olah kami yang non-muslim selama ini tidak paham dan tidak mengerti cara menghormati saudara kami beragama muslim yang sedang puasa. Kata-kata dan aturan yang berlebihan bisa memancing multi tafsir dan praduga yang kurang baik, Mas," jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji justru mempertanyakan pihak-pihak yang memprotes imbauan tersebut.

Sebab, menurutnya, imbauan yang dikeluarkan melalui surat pengumuman itu sudah dibahas dengan sejumlah organisasi dan tokoh umat beragama.

"Justru di Malang ini sudah enggak pernah ada masalah antarkerukunan umat beragama. Justru yang saya khawatirkan orang-orang yang meng-upload (memprotes) ini ada tujuan apa," katanya saat ditemui di Balai Kota Malang, Selasa (7/5/2019).

Dijelaskannya, kata demonstratif dalam imbauan tersebut sebagai penyederhanaan kalimat.

Setiap warung yang tetap melayani pembeli di siang hari harus tertutup. Begitu juga dengan warga yang merokok harus juga di ruang tertutup.

Sutiaji lantas bertanya kata apa yang dapat mewakili maksud dari dikeluarkannya surat imbauan itu selain kata demonstratif.

Let's block ads! (Why?)

MALANG, KOMPAS.com - Imbauan Wali Kota Malang yang meminta warga non-muslim untuk tidak makan, minum dan merokok secara demonstratif selama Bulan Ramadhan menuai polemik.

Imbauan itu dinilai berlebihan sebab Kota Malang dikenal kondusif dan kerukunan antar umat beragama sudah terjalin kuat.

Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Pendeta David Tobing menilai kata demonstratif berlebihan karena Kota Malang dikenal sebagai kota yang toleran terhadap umat beragama.

"Mengenai imbauan, menurut saya pribadi tidak ada masalah namanya saja imbauan dari kepala daerah itu hal wajar. Hanya pemilihan kata demonstratif dan beberapa aturan ini yang agak berlebihan mengingat Kota Malang sangat toleran dan kondusif selama ini," katanya kepada Kompas.com, Selasa (7/5/2019).

Baca juga: Pemkot Malang Imbau Non-Muslim Tidak Makan, Minum, dan Rokok Secara Demonstratif

Imbauan yang disampaikan melalui surat pengumuman Nomor 4 tahun 2019 tentang menyambut dan menghormati Bulan Suci Ramadhan 1440 H/2019 M itu dinilai dapat menimbulkan multi tafsir.

"Seolah-olah kami yang non-muslim selama ini tidak paham dan tidak mengerti cara menghormati saudara kami beragama muslim yang sedang puasa. Kata-kata dan aturan yang berlebihan bisa memancing multi tafsir dan praduga yang kurang baik, Mas," jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji justru mempertanyakan pihak-pihak yang memprotes imbauan tersebut.

Sebab, menurutnya, imbauan yang dikeluarkan melalui surat pengumuman itu sudah dibahas dengan sejumlah organisasi dan tokoh umat beragama.

"Justru di Malang ini sudah enggak pernah ada masalah antarkerukunan umat beragama. Justru yang saya khawatirkan orang-orang yang meng-upload (memprotes) ini ada tujuan apa," katanya saat ditemui di Balai Kota Malang, Selasa (7/5/2019).

Dijelaskannya, kata demonstratif dalam imbauan tersebut sebagai penyederhanaan kalimat.

Setiap warung yang tetap melayani pembeli di siang hari harus tertutup. Begitu juga dengan warga yang merokok harus juga di ruang tertutup.

Sutiaji lantas bertanya kata apa yang dapat mewakili maksud dari dikeluarkannya surat imbauan itu selain kata demonstratif.

Let's block ads! (Why?)



Bagikan Berita Ini

Related Posts :

0 Response to "Ini Kata Wali Kota Malang Soal Polemik Imbauan Non-Muslim Tak Makan, Minum, Rokok Secara Demonstratif - KOMPAS.com"

Post a Comment

Powered by Blogger.