Search

Malang Menuju Kopi Generasi Ketiga - KOMPAS.com

MALANG, KOMPAS.com - Geliat kedai kopi di Kota Malang, Jawa Timur, berkembang pesat. Hal itu tidak lepas dari penikmat kopi yang kian candu dengan aroma dan cita rasa yang dikeluarkan oleh biji kopi.

Baru-baru ini, perkembangan kedai kopi merambah ke Pasar Tawangmangu. Sisi timur pasar yang terdiri dari sejumlah stan permanen saling berhadapan mulai diisi usaha kedai kopi.

Setidaknya, ada tiga kedai kopi yang cukup familiar di kalangan penikmat kopi. Seperti Nomaden, Heerlijk Koffie dan Pabrik Kopi Senja Mataram.

Penikmat kopi bisa bersantai dengan tenang di kawasan itu. Stan kedai kopi yang saling berhadapan dengan halaman beraspal di tengah-tengahnya membuat nongkrong lebih nyaman.

Di kawasan Sudimoro atau di sepanjang Jalan Ikan Tombro juga berderet kedai kopi yang setiap saat ramai dikunjungi penikmatnya. Begitu juga dengan kompleks kedai kopi di kawasan Omah Kampus.

Belum lagi dengan kedai kopi yang berdiri terpisah atau berdiri di tempat tertentu dengan ke khasannya.

Baca juga: Menjelajahi Rasa Kopi Jabar di Gesa Kopi

Pemilik Kafe Dialectic, Zainudin mengatakan, pecinta kopi sudah memasuki generasi ketiga. Pada generasi ini, antara petani, kafe dan penikmatnya harus saling berkaitan.

Penikmat kopi mulai mencari tahu tentang asal mula kopi yang diminumnya. Sementara peracik kopi atau barista harus bisa berinteraksi langsung dengan pelanggannya.

Pengelola kedai juga harus turun tangan untuk membantu petani dalam menghasilkan biji kopi yang berkualitas.

"Sekarang ini sudah masuk kopi generasi ketiga. Antara peminum kopi, caffee shop dan petani kopi saling berkaitan. Ciri-ciri orang mulai ingin tahu, ini kopi ditanam di mana," katanya saat diwawancara pertengahan Maret lalu.

Zainudin mengatakan, kedai kopi di Malang terus tumbuh dan menjamur. Berikutnya, kedai kopi harus memberikan edukasi kepada penikmat terkait kopi yang berkualitas. Sebab, garda terdepan penyajian kopi dengan single original atau spesialitasnya ada pada kafe dengan baristanya.

"Caffee shop harus lebih open kepada pelanggan dan barista harus lebih komunikatif, ini merupakan ciri kopi generasi ketiga," katanya.

Edukasi petani

Pegiat kopi dari Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya, Wenny Bekti Sunarharum mengatakan, Indonesia merupakan produsen kopi terbesar dunai setelah Vietnam, Brazil dan Kolombia.


Namun demikian, petani kopi di Indonesia masih membutuhkan edukasi tentang penanganan kopi. Menurutnya, penanganan pasca-panen yang tidak tepat membuat cita rasa khas kopi di berbagai daerah di Indonesia hilang.

Padahal, Indonesia kaya dengan cita rasa kopi. Setiap daerah yang memiliki tanaman kopi memiliki cita rasa khas masing-masing.

Ada berbagai hal yang membuat petani kopi tidak tepat melakukan penanganan pasca-panen. Salah satunya adalah berkaitan dengan kesejahteraan. Petani cenderung acuh terhadap penanganan pasca-panen karena ingin segera menjual hasil panennya.

Hal ini dibutuhkan pendekatan kesejahteraan melalui pembelian biji kopi dengan kualitas tinggi di atas harga biji kopi dengan kualitas rendah.

"Salah satu tantangannya adalah mengubah pemikiran agar petani tidak hanya menjual kopi kualitas rendah karena menginginkan cashflow yang cepat," katanya.

Dalam hal ini, Wenny menganggap bahwa petani membutuhkan edukasi, mulai dari tanam, panen dan hingga penanganan pasca-panen. Selain itu, pasar harus mendukung proses penanganan kopi yang menghasilkan kualitas tinggi.

Sementara itu, di Malang mulai muncul kesadaran memperlakukan kopi dengan tepat. Di Kecamatan Dampit, muncul brand kopi Sridonoretno yang merupakan singkatan dari Desa Srimulyo, Desa Sukodono dan Desa Baturetno.

Di tiga desa itu, petani kopi mulai menerapkan panen biji merah dan penanganan pasca-panen yang tepat. Prosesnya lebih lama, tapi mereka mendapatkan hasil penjualan yang lebih banyak.

Baca juga: Jokowi Ditraktir Minum Kopi Seharga Rp 7.000 oleh Bupati Toba Samosir

Mereka terhimpun dalam sebuah koperasi dan memiliki pangsa pasarnya sendiri, yakni pelaku usaha kedai kopi.

Sejauh ini, Malang menghasilkan dua varietas kopi, robusta dan arabika. Berdasarkan data di Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang pada tahun 2016, luas areal tanaman kopi varietas robusta mencapai 14.948 hektar. Tersebar di 30 kecamatan di Kabupaten Malang dan menghasilkan 9.613 ton biji kopi per tahun.

Sedangkan untuk kopi varietas arabika seluas 1.270 hektar. Tersebar di delapan kecamatan dan menghasilkan 616 ton biji kopi per tahun.


Let's block ads! (Why?)

MALANG, KOMPAS.com - Geliat kedai kopi di Kota Malang, Jawa Timur, berkembang pesat. Hal itu tidak lepas dari penikmat kopi yang kian candu dengan aroma dan cita rasa yang dikeluarkan oleh biji kopi.

Baru-baru ini, perkembangan kedai kopi merambah ke Pasar Tawangmangu. Sisi timur pasar yang terdiri dari sejumlah stan permanen saling berhadapan mulai diisi usaha kedai kopi.

Setidaknya, ada tiga kedai kopi yang cukup familiar di kalangan penikmat kopi. Seperti Nomaden, Heerlijk Koffie dan Pabrik Kopi Senja Mataram.

Penikmat kopi bisa bersantai dengan tenang di kawasan itu. Stan kedai kopi yang saling berhadapan dengan halaman beraspal di tengah-tengahnya membuat nongkrong lebih nyaman.

Di kawasan Sudimoro atau di sepanjang Jalan Ikan Tombro juga berderet kedai kopi yang setiap saat ramai dikunjungi penikmatnya. Begitu juga dengan kompleks kedai kopi di kawasan Omah Kampus.

Belum lagi dengan kedai kopi yang berdiri terpisah atau berdiri di tempat tertentu dengan ke khasannya.

Baca juga: Menjelajahi Rasa Kopi Jabar di Gesa Kopi

Pemilik Kafe Dialectic, Zainudin mengatakan, pecinta kopi sudah memasuki generasi ketiga. Pada generasi ini, antara petani, kafe dan penikmatnya harus saling berkaitan.

Penikmat kopi mulai mencari tahu tentang asal mula kopi yang diminumnya. Sementara peracik kopi atau barista harus bisa berinteraksi langsung dengan pelanggannya.

Pengelola kedai juga harus turun tangan untuk membantu petani dalam menghasilkan biji kopi yang berkualitas.

"Sekarang ini sudah masuk kopi generasi ketiga. Antara peminum kopi, caffee shop dan petani kopi saling berkaitan. Ciri-ciri orang mulai ingin tahu, ini kopi ditanam di mana," katanya saat diwawancara pertengahan Maret lalu.

Zainudin mengatakan, kedai kopi di Malang terus tumbuh dan menjamur. Berikutnya, kedai kopi harus memberikan edukasi kepada penikmat terkait kopi yang berkualitas. Sebab, garda terdepan penyajian kopi dengan single original atau spesialitasnya ada pada kafe dengan baristanya.

"Caffee shop harus lebih open kepada pelanggan dan barista harus lebih komunikatif, ini merupakan ciri kopi generasi ketiga," katanya.

Edukasi petani

Pegiat kopi dari Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya, Wenny Bekti Sunarharum mengatakan, Indonesia merupakan produsen kopi terbesar dunai setelah Vietnam, Brazil dan Kolombia.


Namun demikian, petani kopi di Indonesia masih membutuhkan edukasi tentang penanganan kopi. Menurutnya, penanganan pasca-panen yang tidak tepat membuat cita rasa khas kopi di berbagai daerah di Indonesia hilang.

Padahal, Indonesia kaya dengan cita rasa kopi. Setiap daerah yang memiliki tanaman kopi memiliki cita rasa khas masing-masing.

Ada berbagai hal yang membuat petani kopi tidak tepat melakukan penanganan pasca-panen. Salah satunya adalah berkaitan dengan kesejahteraan. Petani cenderung acuh terhadap penanganan pasca-panen karena ingin segera menjual hasil panennya.

Hal ini dibutuhkan pendekatan kesejahteraan melalui pembelian biji kopi dengan kualitas tinggi di atas harga biji kopi dengan kualitas rendah.

"Salah satu tantangannya adalah mengubah pemikiran agar petani tidak hanya menjual kopi kualitas rendah karena menginginkan cashflow yang cepat," katanya.

Dalam hal ini, Wenny menganggap bahwa petani membutuhkan edukasi, mulai dari tanam, panen dan hingga penanganan pasca-panen. Selain itu, pasar harus mendukung proses penanganan kopi yang menghasilkan kualitas tinggi.

Sementara itu, di Malang mulai muncul kesadaran memperlakukan kopi dengan tepat. Di Kecamatan Dampit, muncul brand kopi Sridonoretno yang merupakan singkatan dari Desa Srimulyo, Desa Sukodono dan Desa Baturetno.

Di tiga desa itu, petani kopi mulai menerapkan panen biji merah dan penanganan pasca-panen yang tepat. Prosesnya lebih lama, tapi mereka mendapatkan hasil penjualan yang lebih banyak.

Baca juga: Jokowi Ditraktir Minum Kopi Seharga Rp 7.000 oleh Bupati Toba Samosir

Mereka terhimpun dalam sebuah koperasi dan memiliki pangsa pasarnya sendiri, yakni pelaku usaha kedai kopi.

Sejauh ini, Malang menghasilkan dua varietas kopi, robusta dan arabika. Berdasarkan data di Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang pada tahun 2016, luas areal tanaman kopi varietas robusta mencapai 14.948 hektar. Tersebar di 30 kecamatan di Kabupaten Malang dan menghasilkan 9.613 ton biji kopi per tahun.

Sedangkan untuk kopi varietas arabika seluas 1.270 hektar. Tersebar di delapan kecamatan dan menghasilkan 616 ton biji kopi per tahun.


Let's block ads! (Why?)



Bagikan Berita Ini

0 Response to "Malang Menuju Kopi Generasi Ketiga - KOMPAS.com"

Post a Comment

Powered by Blogger.