Search

Pendapat Pengamat UMM Soal Kemenangan Sutiaji dalam Pilkada ...

SURYAMALANG.COM, DAU – Pasangan calon (paslon) Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko (Sae) menang Pilkada Kota Malang versi penghitungan cepat.

Pasangan Sae mengalahkan pasangan Anton-Syamsul Mahmud (Asik), dan Yaqud Ananda Gudban-Wanedi ((Menawan), Rabu (27/6/2018).

Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Rinekso Kartono MSi menyatakan hal ini akibat anomali demokrasi.

Yaqud, dan Anton masih ditahan KPK karena masalah perubahan APBD 2015.

( Baca juga : Begini Wajah Nia Ramadhani Saat Masih ABG, Beda Banget Sama Sekarang: Mikhayla Banget )

Bagaimana pandangan Rinekso soal kemenangan SAE?

Berikut wawancara Rinekso dengan SURYAMALANG.COM, Kamis (28/6/2018).

Tanya (T) : Bagaimana pendapat Bapak tentang hasil hitung cepat Pilkada yang sementara ini dimenangkan pasangan Sae?

Jawab (J): Ini kan anomali demokrasi. Secara teoritik sulit dijelaskan. Bahkan secara subtantif demokrasi juga tidak ketemu. Sebab kita terjebak para prosedur demokrasi. Artinya, siapapun bisa jadi kontestan walaupun itupun koruptor. Dan kebetulan, Sutiaji ini mendapat durian runtuh dari anomali demokrasi itu. Jika demokrasi berjalan, maka Sutiaji pasti tidak akan terpilih.

( Baca juga : Update Transfer Liga 1 - Arema Kedatangan Kiper Baru, 3 Pemain Jalani Trial di Persib Bandung )

Sebab dari sisi modal-modal politik, Sutiaji juga minim. Mulai dari finansial, figur, dan sebagainya. Dia masih kalah dengan M Anton (incumbent walikota). Tapi karena anomali itu, dia diuntungkan. Namun sayangnya UU nya belum mengarah kesana. Sehingga siapapun bisa jadi kontestan. Aneh Indonesia ini. Sudah jelas cacat, rakyat masih disuruh memilih atas nama hukum.

Akibatnya, pergantian pemimpinan tidak maksimal atau memilih pemimpin yang diharapkan masyarakat. Dengan anomali ini, maka jadi tidak linier dengan karakter Kota Malang sebagai kota pendidikan. Mestinya ya mencerminkab karakter orang yang punya visi pendidikan dan biografis yang bagus. Sehingga terjadi demokrasi yang menyimpang. Tapi atas nama demokrasi tetap bisa dijalankan.

Let's block ads! (Why?)

SURYAMALANG.COM, DAU – Pasangan calon (paslon) Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko (Sae) menang Pilkada Kota Malang versi penghitungan cepat.

Pasangan Sae mengalahkan pasangan Anton-Syamsul Mahmud (Asik), dan Yaqud Ananda Gudban-Wanedi ((Menawan), Rabu (27/6/2018).

Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Rinekso Kartono MSi menyatakan hal ini akibat anomali demokrasi.

Yaqud, dan Anton masih ditahan KPK karena masalah perubahan APBD 2015.

( Baca juga : Begini Wajah Nia Ramadhani Saat Masih ABG, Beda Banget Sama Sekarang: Mikhayla Banget )

Bagaimana pandangan Rinekso soal kemenangan SAE?

Berikut wawancara Rinekso dengan SURYAMALANG.COM, Kamis (28/6/2018).

Tanya (T) : Bagaimana pendapat Bapak tentang hasil hitung cepat Pilkada yang sementara ini dimenangkan pasangan Sae?

Jawab (J): Ini kan anomali demokrasi. Secara teoritik sulit dijelaskan. Bahkan secara subtantif demokrasi juga tidak ketemu. Sebab kita terjebak para prosedur demokrasi. Artinya, siapapun bisa jadi kontestan walaupun itupun koruptor. Dan kebetulan, Sutiaji ini mendapat durian runtuh dari anomali demokrasi itu. Jika demokrasi berjalan, maka Sutiaji pasti tidak akan terpilih.

( Baca juga : Update Transfer Liga 1 - Arema Kedatangan Kiper Baru, 3 Pemain Jalani Trial di Persib Bandung )

Sebab dari sisi modal-modal politik, Sutiaji juga minim. Mulai dari finansial, figur, dan sebagainya. Dia masih kalah dengan M Anton (incumbent walikota). Tapi karena anomali itu, dia diuntungkan. Namun sayangnya UU nya belum mengarah kesana. Sehingga siapapun bisa jadi kontestan. Aneh Indonesia ini. Sudah jelas cacat, rakyat masih disuruh memilih atas nama hukum.

Akibatnya, pergantian pemimpinan tidak maksimal atau memilih pemimpin yang diharapkan masyarakat. Dengan anomali ini, maka jadi tidak linier dengan karakter Kota Malang sebagai kota pendidikan. Mestinya ya mencerminkab karakter orang yang punya visi pendidikan dan biografis yang bagus. Sehingga terjadi demokrasi yang menyimpang. Tapi atas nama demokrasi tetap bisa dijalankan.

Let's block ads! (Why?)



Bagikan Berita Ini

0 Response to "Pendapat Pengamat UMM Soal Kemenangan Sutiaji dalam Pilkada ..."

Post a Comment

Powered by Blogger.