Search

20 Warga Malang Hidup Ditenda!


MALANG - Warga Malang yang merantau di Palu sedang merasakan sulitnya pasokan bahan makanan. Mereka hidup dalam berbagai keterbatasan di tenda pengungsian pascagempa dan tsunami.
Berdasarkan data yang dihimpun Malang Post dari warga Malang di Palu, sampai kemarin sore tercatat sekitar 20-an orang dalam kondisi selamat. Mereka berasal dari Dampit dan Kota Batu. “Kami saat ini masih terus mencari warga Malang lainnya di Palu,” kata Estu Ardi Wibowo, warga Malang yang tinggal di Jalan Lembu, Kelurahan Tatura Selatan, Kecamatan Palu Selatan kepada Malang Post.
Menurut Ethus, sapaan akrabnya, gempa meluluhlantakkan sebagian besar infrastruktur penting di Kota Palu. Mulai dari ATM, tower pemancar sinyal hingga instalasi listrik. Akibatnya, sudah dua malam ini Ethus dan warga Malang lainnya hidup dalam kegelapan saat malam hari.
“Jaringan listrik mati total, sehingga kami dalam kegelapan saat malam hari tiba. Apalagi, semalam (Sabtu malam), Kota Palu hujan mulai jam 10 malam sampai subuh. Kami sendiri tidur di tenda-tenda, karena gak berani tidur di dalam rumah. Gempa susulan masih muncul terus,” jelas pria 21 tahun ini.  
Ethus merasa beruntung karena seluruh anggota keluarganya di Palu selamat dari dampak destruktif bencana gempa. Kehidupannya di Palu saat ini, berkutat pada mencari bahan makanan serta bahan bakar minyak. Semua warga Palu, tak hanya warga Malang, kesulitan mendapatkan makanan di Palu.
Sebagian besar warga, kekurangan makanan dan air bersih. Sepengetahuannya, per  tenda pengungsi yang ada saat ini hanya mendapatkan jatah 1 kilogram beras. Tiap tenda, berisi 10 orang yang butuh makan. Situasi yang dialami Ethus agak lebih baik karena di rumahnya ada sumur yang masih bisa menyediakan air bersih.
“Cari makanan susah. Setahu saya di tenda pengungsian, dapat jatah 1 kilogram beras untuk 10 orang, per hari,” tandasnya. Tak hanya itu, BBM menjadi komoditas sangat langka di Kota Palu.
Apalagi, kondisi jalanan hancur. Puing-puing, pecahan aspal, serta jalan yang terbelah karena gempa. SPBU di kawasan Kota Palu sangat membatasi pembelian bahan bakar.
Tiap warga, hanya boleh membeli tak lebih dari dua liter BBM. Untuk mendapatkan dua liter BBM, mereka harus mengantre panjang. Saat ini, pihaknya masih terus menunggu bantuan dari pemerintah maupun kawan-kawannya dari Malang.
“Kalau bisa sih mengirim bantuan BBM ke Palu, karena sangat dibutuhkan di sini. Untuk lainnya, makanan, air bersih, terpal, tenda, karpet hingga obat-obatan sangat kami butuhkan,” harapnya.
Sementara itu, Pemkot Malang akan melakukan upaya bantuan terkait bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. “Sementara ini kita buat posko bantuan seperti yang dilakukan saat kejadian Gempa Lombok belum lama ini,” kata Sutiaji.
Pemkot  Malang juga berencana melakukan pendataan warga Kota Malang yang berada di Palu. Hal ini ditambahkan oleh Kabag Humas Pemkot Malang Nur Widianto kepada Malang Post.
“Memang belum terumuskan detail. Masih terkait penggalangan dana, tetapi tidak menutup kemungkinan akan dilakukan hal tersebut (pendataan korban asal Kota Malang,red),” terang Widianto kemarin sore.
Untuk tahap awal, pihaknya akan berupaya menggali informasi terkait hal itu terlebih dahulu. Jika informasi korban Palu yang asal Kota Malang didapatkan, pihaknya akan melakukan tindak lanjut untuk upaya bantuan. (fin/ica/van/ary)

Let's block ads! (Why?)


MALANG - Warga Malang yang merantau di Palu sedang merasakan sulitnya pasokan bahan makanan. Mereka hidup dalam berbagai keterbatasan di tenda pengungsian pascagempa dan tsunami.
Berdasarkan data yang dihimpun Malang Post dari warga Malang di Palu, sampai kemarin sore tercatat sekitar 20-an orang dalam kondisi selamat. Mereka berasal dari Dampit dan Kota Batu. “Kami saat ini masih terus mencari warga Malang lainnya di Palu,” kata Estu Ardi Wibowo, warga Malang yang tinggal di Jalan Lembu, Kelurahan Tatura Selatan, Kecamatan Palu Selatan kepada Malang Post.
Menurut Ethus, sapaan akrabnya, gempa meluluhlantakkan sebagian besar infrastruktur penting di Kota Palu. Mulai dari ATM, tower pemancar sinyal hingga instalasi listrik. Akibatnya, sudah dua malam ini Ethus dan warga Malang lainnya hidup dalam kegelapan saat malam hari.
“Jaringan listrik mati total, sehingga kami dalam kegelapan saat malam hari tiba. Apalagi, semalam (Sabtu malam), Kota Palu hujan mulai jam 10 malam sampai subuh. Kami sendiri tidur di tenda-tenda, karena gak berani tidur di dalam rumah. Gempa susulan masih muncul terus,” jelas pria 21 tahun ini.  
Ethus merasa beruntung karena seluruh anggota keluarganya di Palu selamat dari dampak destruktif bencana gempa. Kehidupannya di Palu saat ini, berkutat pada mencari bahan makanan serta bahan bakar minyak. Semua warga Palu, tak hanya warga Malang, kesulitan mendapatkan makanan di Palu.
Sebagian besar warga, kekurangan makanan dan air bersih. Sepengetahuannya, per  tenda pengungsi yang ada saat ini hanya mendapatkan jatah 1 kilogram beras. Tiap tenda, berisi 10 orang yang butuh makan. Situasi yang dialami Ethus agak lebih baik karena di rumahnya ada sumur yang masih bisa menyediakan air bersih.
“Cari makanan susah. Setahu saya di tenda pengungsian, dapat jatah 1 kilogram beras untuk 10 orang, per hari,” tandasnya. Tak hanya itu, BBM menjadi komoditas sangat langka di Kota Palu.
Apalagi, kondisi jalanan hancur. Puing-puing, pecahan aspal, serta jalan yang terbelah karena gempa. SPBU di kawasan Kota Palu sangat membatasi pembelian bahan bakar.
Tiap warga, hanya boleh membeli tak lebih dari dua liter BBM. Untuk mendapatkan dua liter BBM, mereka harus mengantre panjang. Saat ini, pihaknya masih terus menunggu bantuan dari pemerintah maupun kawan-kawannya dari Malang.
“Kalau bisa sih mengirim bantuan BBM ke Palu, karena sangat dibutuhkan di sini. Untuk lainnya, makanan, air bersih, terpal, tenda, karpet hingga obat-obatan sangat kami butuhkan,” harapnya.
Sementara itu, Pemkot Malang akan melakukan upaya bantuan terkait bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. “Sementara ini kita buat posko bantuan seperti yang dilakukan saat kejadian Gempa Lombok belum lama ini,” kata Sutiaji.
Pemkot  Malang juga berencana melakukan pendataan warga Kota Malang yang berada di Palu. Hal ini ditambahkan oleh Kabag Humas Pemkot Malang Nur Widianto kepada Malang Post.
“Memang belum terumuskan detail. Masih terkait penggalangan dana, tetapi tidak menutup kemungkinan akan dilakukan hal tersebut (pendataan korban asal Kota Malang,red),” terang Widianto kemarin sore.
Untuk tahap awal, pihaknya akan berupaya menggali informasi terkait hal itu terlebih dahulu. Jika informasi korban Palu yang asal Kota Malang didapatkan, pihaknya akan melakukan tindak lanjut untuk upaya bantuan. (fin/ica/van/ary)

Let's block ads! (Why?)



Bagikan Berita Ini

0 Response to "20 Warga Malang Hidup Ditenda!"

Post a Comment

Powered by Blogger.