Search

Dari Masjid Tertua di Malang Ini Bisa Melihat Ka'bah?

Di wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Singosari.

REPUBLIKA.CO.ID, Malang dikenal sebagai wilayah yang memiliki nilai sejarah kuat. Ini mengingat begitu banyak peninggalan yang masih tersisa hingga kini. Salah satu peninggalan sejarah Islam yang perlu dikenal banyak khalayak, yakni Masjid At-thohiriyyah atau Mbah Thohir.

Berada di Jalan Bungkuk, Singosari Kabupaten Malang, masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Bungkuk. "Sebutan Bungkuk muncul dari masyarakat sekitar yang melihat banyak jamaah di tempat ini yang membungkuk karena shalat. Tidak tahu sejak kapan nama itu muncul, yang pasti sebelum lahir sudah ada sebutan ini," ujar Pengurus Masjid Bungkuk, Muhammad Soleh yang lahir pada 1948 ini.

Penampilan Masjid Bungkuk sebenarnya tak jauh berbeda dengan arsitektur bangunan bernuansa Islam lainnya. Hanya saja, tingginya masjid di antara rumah-rumah yang berada di Jalan Bungkuk, membuatnya mudah terlihat. 

Konsep bangunannya sederhana, tapi indah membuat siapapun yang mamandannya. Bahkan, masjdi ini pun nyaman untuk menjalankan ibadah shalat.

Dari pantauan Republika.co.id, di dalam masjid terdapat empat tiang berbentuk kubus begitu tegak di tengah-tengah area dalam ruangan. Tiang yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran kaligrafi terlihat begitu mencolok. Tak hanya itu, tiang ini juga menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di Malang Raya, terutama Singosari.

"Ya ini sudah ada sejak masjid ini berdiri," kata Soleh saat ditemui wartawan di Masjid Bungkuk, Singosari, Malang, Kamis (31/5).

Masjid awal mulanya didirikan dalam bentuk yang begitu sederhana dan kecil. Bukti itu terlihat dari empat tiang berbentuk kubus yang ukurannya sekitar 2 meter x 2 meter. Tiang ini terus diperbaiki dan dirawat sehingga mampu berdiri tegak hingga saat ini.

Di lahan masjid ini sebelumnya juga sering ditemukan bata merah tua yang menandakan adanya peninggalan yang lebih tua dibandingkan Masjid Bungkuk. Bahkan, Soleh pernah menemukan koin lama dan gelang lengan bekas prajurit Singosari saat masa pemugaran sekitar 2008. Namun, sayangnya barang-barang ini hilang dan sudah berpindah tangan tanpa diketahuinya.

"Masjid ini sudah tiga kali dipugar, jadi beda dengan bentuk awalnya. Pertama sebelum saya lahir, terus tahun 1950-an. Terakhir tahun 2008 dipugar dan saya menemukan banyak bata merah, koin, dan gelang yang sering dipakai prajurit kerjaan di lengannya. Sempat saya simpan di salah satu titik di masjid, tapi hilang tidak tahu kemana," tutur Soleh.

Soleh menerangkan, masjid ini berdiri tak lepas dari sosok Kyai Hammimudin. Beliau merupakan mantan Laskar Pangeran Diponegoro yang lari dari pengejaran Belanda sekitar 1830. Di area yang kini bernama Jalan Bungkuk, Hamimuddin mulai mendirikan tempat tinggal, mushalla dan pondok pesantren (ponpes).

Menurut Soleh, Singosari dikenal sebagai area Malang yang cukup pedalaman dan sulit diakses di zaman dahulu. Selain itu, wilayah ini juga memiliki nilai Hindu-Buddha yang begitu kuat karena pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Singosari. Oleh sebab itu, kehadiran Kyai Haminuddin sudah jelas menjadi langkah awal penyebaran Islam di Malang Utara.

Di tengah-tengah usahanya menyebarkan Islam, muncul sosok Mbah Thohir yang menjadi santri paling menonjol di antara lainnya. Santri yang berasal dari Bangil ini tenyata mendapatkan karomah dari Sang Ilahi. Beliau disebut-sebut dapat melihat Ka'bah dari lubang kecil di tembok area imam. 

"Mbah Thohir ternyata mendapatkan karomah itu. Cuma beliau yang bisa melihat Ka'bah. Jadi bukan halaman belakang yang dia lihat dari lubang kecil itu, tapi melihat langsung Ka'bah. Karena inilah Mbah Thohir kemudian diangkat menjadi menantunya Kiai Hamimuddin," tambah Cicit Mbah Thohir ini.

Hingga kini, masjid tertua dengan daya tampung 800 jamaah ini masih berdiri tegak di Jalan Bungkuk. Masjid tak hanya digunakan untuk shalat lima waktu, tapi juga ibadah sunah lainnya, seperti tarawih, Jumatan dan sebagainya. Masyarakat sekitar juga sering menggunakan masjid berlantai dua ini sebagai tempat pengajian.

Bahkan, masjid ini juga sering dijadikan tempat ziarah masyarakat Malang dan sekitarnya. Kedatangan peziarah ini tak lepas dari keberadaan makam keluarga Kiai Hamimuddin di belakang masjid. Di area ini terdapat 13 makam keturunan Kiai Hamimuddin termasuk sosok Mbah Thohir.

"Di sini juga ada makam mantan menteri agama era Bung Karno sekitar tahun 1947 sampai 1949, Masjkur. Cucunya Mbah Thohir merupakan istri dari beliau," ujar dia.

Let's block ads! (Why?)

Di wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Singosari.

REPUBLIKA.CO.ID, Malang dikenal sebagai wilayah yang memiliki nilai sejarah kuat. Ini mengingat begitu banyak peninggalan yang masih tersisa hingga kini. Salah satu peninggalan sejarah Islam yang perlu dikenal banyak khalayak, yakni Masjid At-thohiriyyah atau Mbah Thohir.

Berada di Jalan Bungkuk, Singosari Kabupaten Malang, masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Bungkuk. "Sebutan Bungkuk muncul dari masyarakat sekitar yang melihat banyak jamaah di tempat ini yang membungkuk karena shalat. Tidak tahu sejak kapan nama itu muncul, yang pasti sebelum lahir sudah ada sebutan ini," ujar Pengurus Masjid Bungkuk, Muhammad Soleh yang lahir pada 1948 ini.

Penampilan Masjid Bungkuk sebenarnya tak jauh berbeda dengan arsitektur bangunan bernuansa Islam lainnya. Hanya saja, tingginya masjid di antara rumah-rumah yang berada di Jalan Bungkuk, membuatnya mudah terlihat. 

Konsep bangunannya sederhana, tapi indah membuat siapapun yang mamandannya. Bahkan, masjdi ini pun nyaman untuk menjalankan ibadah shalat.

Dari pantauan Republika.co.id, di dalam masjid terdapat empat tiang berbentuk kubus begitu tegak di tengah-tengah area dalam ruangan. Tiang yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran kaligrafi terlihat begitu mencolok. Tak hanya itu, tiang ini juga menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di Malang Raya, terutama Singosari.

"Ya ini sudah ada sejak masjid ini berdiri," kata Soleh saat ditemui wartawan di Masjid Bungkuk, Singosari, Malang, Kamis (31/5).

Masjid awal mulanya didirikan dalam bentuk yang begitu sederhana dan kecil. Bukti itu terlihat dari empat tiang berbentuk kubus yang ukurannya sekitar 2 meter x 2 meter. Tiang ini terus diperbaiki dan dirawat sehingga mampu berdiri tegak hingga saat ini.

Di lahan masjid ini sebelumnya juga sering ditemukan bata merah tua yang menandakan adanya peninggalan yang lebih tua dibandingkan Masjid Bungkuk. Bahkan, Soleh pernah menemukan koin lama dan gelang lengan bekas prajurit Singosari saat masa pemugaran sekitar 2008. Namun, sayangnya barang-barang ini hilang dan sudah berpindah tangan tanpa diketahuinya.

"Masjid ini sudah tiga kali dipugar, jadi beda dengan bentuk awalnya. Pertama sebelum saya lahir, terus tahun 1950-an. Terakhir tahun 2008 dipugar dan saya menemukan banyak bata merah, koin, dan gelang yang sering dipakai prajurit kerjaan di lengannya. Sempat saya simpan di salah satu titik di masjid, tapi hilang tidak tahu kemana," tutur Soleh.

Soleh menerangkan, masjid ini berdiri tak lepas dari sosok Kyai Hammimudin. Beliau merupakan mantan Laskar Pangeran Diponegoro yang lari dari pengejaran Belanda sekitar 1830. Di area yang kini bernama Jalan Bungkuk, Hamimuddin mulai mendirikan tempat tinggal, mushalla dan pondok pesantren (ponpes).

Menurut Soleh, Singosari dikenal sebagai area Malang yang cukup pedalaman dan sulit diakses di zaman dahulu. Selain itu, wilayah ini juga memiliki nilai Hindu-Buddha yang begitu kuat karena pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Singosari. Oleh sebab itu, kehadiran Kyai Haminuddin sudah jelas menjadi langkah awal penyebaran Islam di Malang Utara.

Di tengah-tengah usahanya menyebarkan Islam, muncul sosok Mbah Thohir yang menjadi santri paling menonjol di antara lainnya. Santri yang berasal dari Bangil ini tenyata mendapatkan karomah dari Sang Ilahi. Beliau disebut-sebut dapat melihat Ka'bah dari lubang kecil di tembok area imam. 

"Mbah Thohir ternyata mendapatkan karomah itu. Cuma beliau yang bisa melihat Ka'bah. Jadi bukan halaman belakang yang dia lihat dari lubang kecil itu, tapi melihat langsung Ka'bah. Karena inilah Mbah Thohir kemudian diangkat menjadi menantunya Kiai Hamimuddin," tambah Cicit Mbah Thohir ini.

Hingga kini, masjid tertua dengan daya tampung 800 jamaah ini masih berdiri tegak di Jalan Bungkuk. Masjid tak hanya digunakan untuk shalat lima waktu, tapi juga ibadah sunah lainnya, seperti tarawih, Jumatan dan sebagainya. Masyarakat sekitar juga sering menggunakan masjid berlantai dua ini sebagai tempat pengajian.

Bahkan, masjid ini juga sering dijadikan tempat ziarah masyarakat Malang dan sekitarnya. Kedatangan peziarah ini tak lepas dari keberadaan makam keluarga Kiai Hamimuddin di belakang masjid. Di area ini terdapat 13 makam keturunan Kiai Hamimuddin termasuk sosok Mbah Thohir.

"Di sini juga ada makam mantan menteri agama era Bung Karno sekitar tahun 1947 sampai 1949, Masjkur. Cucunya Mbah Thohir merupakan istri dari beliau," ujar dia.

Let's block ads! (Why?)



Bagikan Berita Ini

0 Response to "Dari Masjid Tertua di Malang Ini Bisa Melihat Ka'bah?"

Post a Comment

Powered by Blogger.