Search

Tiga Bulan, 171 Warga Kota Malang Terjangkit ISPA

MALANG KOTA – Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi ancaman serius bagi warga Kota Malang. Dalam kurun waktu tiga bulan atau Januari–Maret lalu, sebanyak 171 warga terkena ISPA.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Bayu Cahya Wijaya memperkirakan, angka penderita ISPA hingga akhir 2018 akan meningkat dari tahun sebelumnya.

”Ada perkiraan ISPA tahun ini menyentuh angka 2.638 orang,” ujar Bayu kemarin (15/4).

Sesuai data Dinkes Kota Malang, sepanjang tahun 2017 lalu tercatat 2.346 penderita. Jumlah penderita ISPA tersebut lebih sedikit jika dibandingktan dengan tahun 2016, yakni 2.458 orang. Mayoritas penderita ISPA adalah balita (bayi di bawah lima tahun).

Lokasi mana yang paling rentan terserang ISPA? Bayu memaparkan beberapa kelurahan yang jumlah penderita ISPA-nya tertinggi di Kota Malang. Di antaranya, Kelurahan Kedungkandang, Pandanwangi, dan Mulyorejo.

”Data 2017 menyebut, ketiga kelurahan itu (Mulyorejo, Pandanwangi, dan Kedungkandang) paling banyak jumlah penderita ISPA-nya,” imbuhnya.

Bayu menuturkan, tingginya polusi udara menjadi faktor utama balita terjangkit ISPA. Sementara, orang dewasa biasanya hanya terserang batuk dan pilek. Saat musim pancaroba dan cuaca buruk, kata Bayu, balita rentan sekali terserang ISPA.

”Orang tua kadang tidak paham. Anak waktunya istirahat, masih diajak jalan-jalan,” tuturnya.

Pejabat eselon III B Pemerintah Kota (Pemkot) Malang itu mengimbau para orang tua agar memahami kekebalan tubuh anaknya. Pemahaman orang tua terhadap kekebalan tubuh anaknya, diyakini Bayu, bisa meminimalisasi angka penderita ISPA.

Disinggung mengenai upaya dinkes untuk mengantisipasi serangan ISPA, Bayu sudah melakukan beberapa program. Misalnya, gencar menyosialisasikan bahaya ISPA, sekaligus penanggulangannya. Sosialisasi itu digelar melalui pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).

”Kami sudah programkan sosialisasi. Yang menindaklanjuti ke lapangan itu pihak puskesmas,” terang Bayu.

Dia berharap sosialisasi yang digencarkan itu bisa mengurangi jumlah penderita ISPA. Khususnya tiga kelurahan yang tingkat penderitanya tertinggi dibandingkan kelurahan lain di Kota Malang.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Arief Rohman

Let's block ads! (Why?)

MALANG KOTA – Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi ancaman serius bagi warga Kota Malang. Dalam kurun waktu tiga bulan atau Januari–Maret lalu, sebanyak 171 warga terkena ISPA.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Bayu Cahya Wijaya memperkirakan, angka penderita ISPA hingga akhir 2018 akan meningkat dari tahun sebelumnya.

”Ada perkiraan ISPA tahun ini menyentuh angka 2.638 orang,” ujar Bayu kemarin (15/4).

Sesuai data Dinkes Kota Malang, sepanjang tahun 2017 lalu tercatat 2.346 penderita. Jumlah penderita ISPA tersebut lebih sedikit jika dibandingktan dengan tahun 2016, yakni 2.458 orang. Mayoritas penderita ISPA adalah balita (bayi di bawah lima tahun).

Lokasi mana yang paling rentan terserang ISPA? Bayu memaparkan beberapa kelurahan yang jumlah penderita ISPA-nya tertinggi di Kota Malang. Di antaranya, Kelurahan Kedungkandang, Pandanwangi, dan Mulyorejo.

”Data 2017 menyebut, ketiga kelurahan itu (Mulyorejo, Pandanwangi, dan Kedungkandang) paling banyak jumlah penderita ISPA-nya,” imbuhnya.

Bayu menuturkan, tingginya polusi udara menjadi faktor utama balita terjangkit ISPA. Sementara, orang dewasa biasanya hanya terserang batuk dan pilek. Saat musim pancaroba dan cuaca buruk, kata Bayu, balita rentan sekali terserang ISPA.

”Orang tua kadang tidak paham. Anak waktunya istirahat, masih diajak jalan-jalan,” tuturnya.

Pejabat eselon III B Pemerintah Kota (Pemkot) Malang itu mengimbau para orang tua agar memahami kekebalan tubuh anaknya. Pemahaman orang tua terhadap kekebalan tubuh anaknya, diyakini Bayu, bisa meminimalisasi angka penderita ISPA.

Disinggung mengenai upaya dinkes untuk mengantisipasi serangan ISPA, Bayu sudah melakukan beberapa program. Misalnya, gencar menyosialisasikan bahaya ISPA, sekaligus penanggulangannya. Sosialisasi itu digelar melalui pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).

”Kami sudah programkan sosialisasi. Yang menindaklanjuti ke lapangan itu pihak puskesmas,” terang Bayu.

Dia berharap sosialisasi yang digencarkan itu bisa mengurangi jumlah penderita ISPA. Khususnya tiga kelurahan yang tingkat penderitanya tertinggi dibandingkan kelurahan lain di Kota Malang.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Arief Rohman

Let's block ads! (Why?)



Bagikan Berita Ini

0 Response to "Tiga Bulan, 171 Warga Kota Malang Terjangkit ISPA"

Post a Comment

Powered by Blogger.