Search

Inilah Sikap Polisi dan Tokoh Agama di Kota Malang Perihal Insiden ...

SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri meningkatkan sinergitas dengan para tokoh masyarakat dan agama di Kota Malang. Hal itu dilakukan untuk menjaga kondusifitas serta keamanan di Kota Malang. Apalagi pasca viralnya kasus pembakaran bendera HTI di Garut, Jawa Barat. 

Asfur mengundang para tokoh ke Mapolres Malang Kota. Mereka bertatap muka di ruang Eksekutif Polres Malang Kota. Acara itu dikemas dengan sebutan Coffee Morning Kapolres Malang Kota bersama tokoh Agama dan tokoh Pemuda Kota Malang.

Hadir dalam kegiatan itu para PJU Polres Malang Kota, KH. M. Baidhowi Muslich (Ketua MUI Kota Malang), H. Ahmad Taufik Kusuma (Ketua FKUB Kota Malang),  H. Abdul Haris, MA (Ketua PD Muhammadiyah Kota Malang).

Ada juga Mufid, MA (MUI Kota Malang), Asif Budiri ( Sekretaris PCNU Kota Malang), Ahmad Shobrun Jamil (Ketua Pemuda Muhammadiyah / Dan Kokam Kota Malang),  Lukman Hakim (Sekretaris Pemuda Muhammdiyah Kota Malang).

Serta Arief Nur Rahman Hakim (Wakil Bendahara Pemuda Muhammadiyah Kota Malang),  M. Sarbini (Ketua Banser Kota Malang), dan Nur Junaedi (Ketua PC Anshor Kota Malang).

“Kegiatan Coffee Morning dalam rangka silaturahmi serta untuk menyikapi perkembangan baik daerah maupun pusat. Maka perlu dilakukan pertemuan seperti ini agar kota Malang tetap kondusif,” ujar Asfuri, Rabu (24/10/2018).

Asfuri juga menjelaskan, terkait pembakaran bendera  HTI di Garut, semua pihak di Kota Malang diharap bisa menahan diri. Katanya, kasus itu sudah ditangani oleh pihak yang berwajib saat ini. 

“Polres Malang kota mengambil langkah mediasi dan disampaikan bahwa oknum yang melakukan tindakan tersebut telah diambil tindakan hukum sehingga jangan ada tindakan - tindakan yang bisa mengganggu stabilitas keamanan di Kota Malang,” tegasnya.

Kata Asfuri, situasi dan kondisi Kota Malang yang kondusif merupakan kerja semua elemen masyarakat yang ada di Kota Malang. Ia uga mengantisipasi permainan isu tersebut ke ranah politik agar kontestasi Pilrpres 2019 tetap dalam kondisi yang aman.

“Semoga Pilpres dan Pileg 2019 dapat berjalan aman lancar,” paparnya.

Ketua FKUB Ahmad Taufik Kusuma dalam sambutannya mengapresiasi Polres Malang Kota yang telah memprakarsai kegiatan itu. Menuruntya pertemuan dan silaturahmi seperti itu sangat efektif dalam menciptakan situasi yang kondusif. 

“Memanfaatkan silaturahmi seperti ini untuk menghindari sengketa. Kalau ada permasalahan sekecil apapun perlu dilakukan koordinasi dan diserahkan kepada pihak yang berwajib,” ungkapnya.

Ia juga menyerukan kepada seluruh pemuda - pemuda baik pemuda Muhammadiyah maupun pemuda Anshor apabila terjadi sesuatu hendaknya dilakukan musyawarah. Katanya, Kota Malang merupakan barometer dari daerah lain khususnya perihal kerukunan umat muslim sehingga perlu dijaga persatuan dan kesatuan. 

Ketua MUI Kota Malang KH. M. Baidhowi Muslich juga menegaskan kalau cinta tanah air itu hukumnya wajib. Menurutnya, 22 Oktober dijadikan hari santri karena adanya resolusi jihad. Namun jihad yang dimaksud sesuai dengan agama yakni jihad yang mendahulukan kepentingan masyarakat banyak. 

“HTI memang dilarang tapi benderanya bertuliskan kalimat toyibah sehingga dalam melakukan langkah harus hati-hati. Jangan sampai terpancing karena sesungguhnya setan itu memunculkan kebencian dan permusuhan,” tutup Baidhowi. 

Let's block ads! (Why?)

SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri meningkatkan sinergitas dengan para tokoh masyarakat dan agama di Kota Malang. Hal itu dilakukan untuk menjaga kondusifitas serta keamanan di Kota Malang. Apalagi pasca viralnya kasus pembakaran bendera HTI di Garut, Jawa Barat. 

Asfur mengundang para tokoh ke Mapolres Malang Kota. Mereka bertatap muka di ruang Eksekutif Polres Malang Kota. Acara itu dikemas dengan sebutan Coffee Morning Kapolres Malang Kota bersama tokoh Agama dan tokoh Pemuda Kota Malang.

Hadir dalam kegiatan itu para PJU Polres Malang Kota, KH. M. Baidhowi Muslich (Ketua MUI Kota Malang), H. Ahmad Taufik Kusuma (Ketua FKUB Kota Malang),  H. Abdul Haris, MA (Ketua PD Muhammadiyah Kota Malang).

Ada juga Mufid, MA (MUI Kota Malang), Asif Budiri ( Sekretaris PCNU Kota Malang), Ahmad Shobrun Jamil (Ketua Pemuda Muhammadiyah / Dan Kokam Kota Malang),  Lukman Hakim (Sekretaris Pemuda Muhammdiyah Kota Malang).

Serta Arief Nur Rahman Hakim (Wakil Bendahara Pemuda Muhammadiyah Kota Malang),  M. Sarbini (Ketua Banser Kota Malang), dan Nur Junaedi (Ketua PC Anshor Kota Malang).

“Kegiatan Coffee Morning dalam rangka silaturahmi serta untuk menyikapi perkembangan baik daerah maupun pusat. Maka perlu dilakukan pertemuan seperti ini agar kota Malang tetap kondusif,” ujar Asfuri, Rabu (24/10/2018).

Asfuri juga menjelaskan, terkait pembakaran bendera  HTI di Garut, semua pihak di Kota Malang diharap bisa menahan diri. Katanya, kasus itu sudah ditangani oleh pihak yang berwajib saat ini. 

“Polres Malang kota mengambil langkah mediasi dan disampaikan bahwa oknum yang melakukan tindakan tersebut telah diambil tindakan hukum sehingga jangan ada tindakan - tindakan yang bisa mengganggu stabilitas keamanan di Kota Malang,” tegasnya.

Kata Asfuri, situasi dan kondisi Kota Malang yang kondusif merupakan kerja semua elemen masyarakat yang ada di Kota Malang. Ia uga mengantisipasi permainan isu tersebut ke ranah politik agar kontestasi Pilrpres 2019 tetap dalam kondisi yang aman.

“Semoga Pilpres dan Pileg 2019 dapat berjalan aman lancar,” paparnya.

Ketua FKUB Ahmad Taufik Kusuma dalam sambutannya mengapresiasi Polres Malang Kota yang telah memprakarsai kegiatan itu. Menuruntya pertemuan dan silaturahmi seperti itu sangat efektif dalam menciptakan situasi yang kondusif. 

“Memanfaatkan silaturahmi seperti ini untuk menghindari sengketa. Kalau ada permasalahan sekecil apapun perlu dilakukan koordinasi dan diserahkan kepada pihak yang berwajib,” ungkapnya.

Ia juga menyerukan kepada seluruh pemuda - pemuda baik pemuda Muhammadiyah maupun pemuda Anshor apabila terjadi sesuatu hendaknya dilakukan musyawarah. Katanya, Kota Malang merupakan barometer dari daerah lain khususnya perihal kerukunan umat muslim sehingga perlu dijaga persatuan dan kesatuan. 

Ketua MUI Kota Malang KH. M. Baidhowi Muslich juga menegaskan kalau cinta tanah air itu hukumnya wajib. Menurutnya, 22 Oktober dijadikan hari santri karena adanya resolusi jihad. Namun jihad yang dimaksud sesuai dengan agama yakni jihad yang mendahulukan kepentingan masyarakat banyak. 

“HTI memang dilarang tapi benderanya bertuliskan kalimat toyibah sehingga dalam melakukan langkah harus hati-hati. Jangan sampai terpancing karena sesungguhnya setan itu memunculkan kebencian dan permusuhan,” tutup Baidhowi. 

Let's block ads! (Why?)



Bagikan Berita Ini

0 Response to "Inilah Sikap Polisi dan Tokoh Agama di Kota Malang Perihal Insiden ..."

Post a Comment

Powered by Blogger.