Search

Kampung Kelahiran Ken Dedes Gelar Festival Panawijen Djaman Bijen - Surya Malang

SURYAMALANG.COM - Sejarawan sekaligus arkeolog Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono, menyatakan, Polowijen atau Panawijen atau Panawijyan adalah sebuah desa yang pada abad X M telah menyandang status ‘Sima (swatantra)‘, yakni sebuah desa agraris yang terbilang maju pada jamannya.

Bahkan, memasuki akhir abad XII atau awal abad XIII M, desa yang di dalam kitab gancaran Pararaton dinamai dengan ‘Panawijen’ berkembang menjadi Mandala Mahayana Buddhisme yang dipimpin oleh Empu Purwa, yang tiada lain adalah ayahanda Ken Dedes.

Menurut Dwi Cahyono, salah satu prasasti Wurandungan/Kanuruhan B yang memuat informasi mengenai penetapan Wanua Panawjyan sebagai ‘Desa Perdikan (Sima)’ dapat dialternasikan sebagai penetapan status sima Panawijayan, yakni pada hari Rabo Wage, tanggal 10 paro terang (suklapaksa), pada bulan Palguna, tahun Saka 865, yang bisa dikonversikan dalam tarikh masehi menjadi 7 Nopember 944 Masehi atau sekitar 1074 tahun yang lalu.

Seiring dengan itu, jejak budaya masa lampau, baik artefaktual, ekofaktual ataupun tradisi lisan yang berkenaan dengan sejarah Panawijyan dan Ken Dedes kian terpinggirkan, bahkan nyaris dilupakan.

Padahal jejak itu menjadi pembukti bahwa Kota Malang adalah wilayah Padamana kehidupan Ken Dedes, yakni Sang Strinareswari bermula.

“Beruntunglah, tak jauh daripadanya terdapat taman kota yang kebetulan disertai dengan Arca Prajnaparamita (de potrait Ken Dedes) yang berukuran amat besar, yang seakan bernarasi dengan kesejarahan Polowijen,” kata Dwi Cahyono di Polowijen, Kec. Blimbing, Kota Malang, Minggu (25/11).

Dwi Cahyono menambahkan, ikon kota Malang tersebut menegaskan siapapun orang yang hidup pada masa sekarang, bahwa basis edukasi telah tertanam jauh di Bhumi Malang semenjak masa Hindu-Buddha.

“Arca Prajanaparamita (Dewi ilmu pengetahuan tertinggi) serta adanya Mandala Buddhis di Panawijen pada masa lalu menjadi fakta bahwa Malang adalah ‘Basis Pendidikan’ dalam lintas masa,” tegas dia.

Kini, jejak dan sejarah tentang Polowijen atau Panawijen yang tidak lain adalah Panawidyan telah diulang kembali oleh Kampung Budaya Polowijen (KBP). Menurut penuturan penggagas KBP Isa Wahyudi atau beken disapa Ki Demang, kurang lebih 1,5 tahun yang lalu warga Polowijen aktif mengembangkan tradisi lama dan budaya setempat yang menjadi penguatan ikon budaya lokal di Kota Malang itu.

“Digelarnya Festival Panawijen Djaman Bijen oleh KBP sesuai dengan kalender wisata Kota Malang ini adalah merayakan kegiatan seni dan budaya sebagai bentuk peringatan hari jadi Polowijen. Pada acara itu dimarakkan dengan berbagai penampilan antara lain, tari Topeng Malang, kriya Topeng Malang, kriya Batik Malang, tembang Mocopat Jowo, permainan mradisional, Musik dolanan, jajanan djaman bijen,” terang Ki Demang.

Sementara itu, wakil ketua Komisi A DPRD Kota Malang Edi Wijanarko mengapresiasi digelarnya acara tersebut. Menurutnya, kegiatan wisata yang berbasis kesenian dan kebudayaan yang dilaksanakan oleh KBP perlu terus mendapatkan dukungan.

“Apa yang dilakukan oleh KBP sevisi dengan Walikota Malang dan Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Malang yakni mewujudkan kota Malang sebagai Kota Wisata,” kata dia.

Ratusan wisatawan tampak antusias menyaksikan acara tersebut. Mereka hadir dari berbagai unsur, diantaranya mahasiwa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang.

Mereka sembari berwisata, juga melakukan eduwisata dan belajar budaya di KBP. Tampak juga, para pegiat budaya kota Malang, duta budaya kota Malang, duta Roro kabupaten Malang, putri Batik Indonesia, dan warga Polowijen. ADI H

Let's block ads! (Why?)

SURYAMALANG.COM - Sejarawan sekaligus arkeolog Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono, menyatakan, Polowijen atau Panawijen atau Panawijyan adalah sebuah desa yang pada abad X M telah menyandang status ‘Sima (swatantra)‘, yakni sebuah desa agraris yang terbilang maju pada jamannya.

Bahkan, memasuki akhir abad XII atau awal abad XIII M, desa yang di dalam kitab gancaran Pararaton dinamai dengan ‘Panawijen’ berkembang menjadi Mandala Mahayana Buddhisme yang dipimpin oleh Empu Purwa, yang tiada lain adalah ayahanda Ken Dedes.

Menurut Dwi Cahyono, salah satu prasasti Wurandungan/Kanuruhan B yang memuat informasi mengenai penetapan Wanua Panawjyan sebagai ‘Desa Perdikan (Sima)’ dapat dialternasikan sebagai penetapan status sima Panawijayan, yakni pada hari Rabo Wage, tanggal 10 paro terang (suklapaksa), pada bulan Palguna, tahun Saka 865, yang bisa dikonversikan dalam tarikh masehi menjadi 7 Nopember 944 Masehi atau sekitar 1074 tahun yang lalu.

Seiring dengan itu, jejak budaya masa lampau, baik artefaktual, ekofaktual ataupun tradisi lisan yang berkenaan dengan sejarah Panawijyan dan Ken Dedes kian terpinggirkan, bahkan nyaris dilupakan.

Padahal jejak itu menjadi pembukti bahwa Kota Malang adalah wilayah Padamana kehidupan Ken Dedes, yakni Sang Strinareswari bermula.

“Beruntunglah, tak jauh daripadanya terdapat taman kota yang kebetulan disertai dengan Arca Prajnaparamita (de potrait Ken Dedes) yang berukuran amat besar, yang seakan bernarasi dengan kesejarahan Polowijen,” kata Dwi Cahyono di Polowijen, Kec. Blimbing, Kota Malang, Minggu (25/11).

Dwi Cahyono menambahkan, ikon kota Malang tersebut menegaskan siapapun orang yang hidup pada masa sekarang, bahwa basis edukasi telah tertanam jauh di Bhumi Malang semenjak masa Hindu-Buddha.

“Arca Prajanaparamita (Dewi ilmu pengetahuan tertinggi) serta adanya Mandala Buddhis di Panawijen pada masa lalu menjadi fakta bahwa Malang adalah ‘Basis Pendidikan’ dalam lintas masa,” tegas dia.

Kini, jejak dan sejarah tentang Polowijen atau Panawijen yang tidak lain adalah Panawidyan telah diulang kembali oleh Kampung Budaya Polowijen (KBP). Menurut penuturan penggagas KBP Isa Wahyudi atau beken disapa Ki Demang, kurang lebih 1,5 tahun yang lalu warga Polowijen aktif mengembangkan tradisi lama dan budaya setempat yang menjadi penguatan ikon budaya lokal di Kota Malang itu.

“Digelarnya Festival Panawijen Djaman Bijen oleh KBP sesuai dengan kalender wisata Kota Malang ini adalah merayakan kegiatan seni dan budaya sebagai bentuk peringatan hari jadi Polowijen. Pada acara itu dimarakkan dengan berbagai penampilan antara lain, tari Topeng Malang, kriya Topeng Malang, kriya Batik Malang, tembang Mocopat Jowo, permainan mradisional, Musik dolanan, jajanan djaman bijen,” terang Ki Demang.

Sementara itu, wakil ketua Komisi A DPRD Kota Malang Edi Wijanarko mengapresiasi digelarnya acara tersebut. Menurutnya, kegiatan wisata yang berbasis kesenian dan kebudayaan yang dilaksanakan oleh KBP perlu terus mendapatkan dukungan.

“Apa yang dilakukan oleh KBP sevisi dengan Walikota Malang dan Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Malang yakni mewujudkan kota Malang sebagai Kota Wisata,” kata dia.

Ratusan wisatawan tampak antusias menyaksikan acara tersebut. Mereka hadir dari berbagai unsur, diantaranya mahasiwa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang.

Mereka sembari berwisata, juga melakukan eduwisata dan belajar budaya di KBP. Tampak juga, para pegiat budaya kota Malang, duta budaya kota Malang, duta Roro kabupaten Malang, putri Batik Indonesia, dan warga Polowijen. ADI H

Let's block ads! (Why?)



Bagikan Berita Ini

0 Response to "Kampung Kelahiran Ken Dedes Gelar Festival Panawijen Djaman Bijen - Surya Malang"

Post a Comment

Powered by Blogger.