Search

Menengok Museum Daur Ulang Botol Bekas di Malang

Belum ada di belahan dunia tentang museum yang memamerkan produk recycle botol bekas

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Ada beragam hal unik yang dapat dikumpulkan menjadi sebuah koleksi di museum. Salah satu terunik dan mungkin dapat disebut yang pertama di dunia, yakni Museum Daur Ulang Botol Bekas di Pondok Wisata B Walk, Dau, Kabupaten Malang.

"Memang belum ada di belahan dunia tentang museum atau pameran 24 jam penuh selama setahun yang memamerkan produk recycle botol bekas," ujar Pendiri Museum Daur Ulang Botol Bekas, Mohammad Taufiq Shaleh Saguanto saat ditemui Republika di Dau, Kabupaten Malang, Rabu (12/7).

Ide daur ulang botol bekas Taufiq tak lepas dari kondisi lingkungannya tiga tahun lalu. Sang anak bungsu yang kala itu berusia tiga tahun selalu menyaksikan orang yang membuang sampah botol sembarangan. Bahkan, tak jarang hal itu dilakukan oleh orang-orang yang berkendaraan mobil mewah.

Karena khawatir mencontoh tindakan kurang baik, Taufiq mulai memberikan aksi pada anaknya. Dia meminta sang anak untuk mengumpulkan botol bekas lalu diberikan pada pengelola sampah. Hal ini terus berlanjut sampai di mana pengelola sampah tak kunjung mengambil barang bekas tersebut sehingga menumpuk di halaman rumah.

Dari hal sederhana ini, terlintas dalam benak Taufiq untuk mengotak-atik barang bekas. Setelah mencoba untuk membentuk suatu benda, Taufiq akhirnya lebih tertarik pada botol bekas. Selain lebih mudah ditemukan, tampilan botol bekas saat diubah ternyata lebih menarik.

Ada begitu banyak karya yang telah dilahirkan Taufiq melalui kreativitasnya dengan botol bekas. Ribuan karya telah lahir, baik berbentuk mobil, motor maupun robot. Pemilihan jenis ini ditentukan karena Taufiq menganggap lebih maskulin dan bernuansa "teknologi".

Karya besar Taufiq tersebut tentu tidak hanya sekedar hiasan semesta di rumahnya. Sudah begitu banyak karyanya terjual ke beberapa daerah, bahkan hingga ke Kanada. Harga yang dibanderol pada karyanya biasa berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 1,5 juta.

"Rp 1,5 juta itu robot yang dari botol bekas. Kenapa mahal? Karena itu kan ide, bagaimana orang bisa memandang itu sebagai robot bukan tumpukan botol," jelasnya.

Untuk mendaur ulang botol bekas, Taufiq menilai, siapapun sebenarnya dapat melakukan. Apalagi, dia melanjutkan, modal menbuatnya dapat disebut sangat kecil. Seorang individu hanya perlu menyediakan botol dan sendok plastik bekas, dua pylox, gunting dan pisau pemotong.

Karena sudah memiliki begitu banyak karya, Taufiq pun kini memutuskan mendirikan museum di Dau, Kabupaten Malang. Tak hanya ingin memamerkan dan mengkomersilkan, dia juga ingin memberikan pelatihan pada masyarakat lainnya.

Menurut Taufiq,  satu orang dikenakan Rp 35 ribu apabila datang dengan 20 orang per kelompoknya. Dengan modal sekecil ini, bukan hanya ilmu yang didapat tapi juga disediakan fasilitas lainnya. Selain makan siang, pengunjung dapat menikmati fasilitas wisata di lokasi Pondok Wisata B Walk, Dau, Kabupaten Malang.

Di sisi lain, Taufiq mengungkapkan, selama ini museum identik dengan barang klasik bernilai tinggi, kuno, mahal dan terbatas. "Dan aku di sini dibalik semua. Aku punya barang botol yang jelas tidak mahal dan ini tidak berharga," terangnya.

Dari segi edukasi, Taufiq tentu menginginkan pengunjung belajar sejarah. Namun sejarah di sini lebih menekankan betapa menyenangkannya hidup tanpa botol di masa lalu. Dia mengingat di mana dahulu membeli nasi cukup memakai rantang. Lalu membeli kecap botol di warung dan mendapatkan permen ketika dikembalikan.

Hingga saat ini, museum secara perlahan akan dipenuhi ribuan karya besar Taufiq. Gedung berukuran 20 x 20 meter telah tersedia di bagian depan Pondok Wisata B Walk Dau, Kabupaten Malang. Museum yang juga telah diresmikan oleh Bupati Malang, Selasa (11/7) ini hanya perlu menyempurnakan pada sisi layout-nya.

"Nanti dibukanya saat ulangan tahun Kabupaten Malang pada 28 November," tambah dia.

Let's block ads! (Why?)

Belum ada di belahan dunia tentang museum yang memamerkan produk recycle botol bekas

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Ada beragam hal unik yang dapat dikumpulkan menjadi sebuah koleksi di museum. Salah satu terunik dan mungkin dapat disebut yang pertama di dunia, yakni Museum Daur Ulang Botol Bekas di Pondok Wisata B Walk, Dau, Kabupaten Malang.

"Memang belum ada di belahan dunia tentang museum atau pameran 24 jam penuh selama setahun yang memamerkan produk recycle botol bekas," ujar Pendiri Museum Daur Ulang Botol Bekas, Mohammad Taufiq Shaleh Saguanto saat ditemui Republika di Dau, Kabupaten Malang, Rabu (12/7).

Ide daur ulang botol bekas Taufiq tak lepas dari kondisi lingkungannya tiga tahun lalu. Sang anak bungsu yang kala itu berusia tiga tahun selalu menyaksikan orang yang membuang sampah botol sembarangan. Bahkan, tak jarang hal itu dilakukan oleh orang-orang yang berkendaraan mobil mewah.

Karena khawatir mencontoh tindakan kurang baik, Taufiq mulai memberikan aksi pada anaknya. Dia meminta sang anak untuk mengumpulkan botol bekas lalu diberikan pada pengelola sampah. Hal ini terus berlanjut sampai di mana pengelola sampah tak kunjung mengambil barang bekas tersebut sehingga menumpuk di halaman rumah.

Dari hal sederhana ini, terlintas dalam benak Taufiq untuk mengotak-atik barang bekas. Setelah mencoba untuk membentuk suatu benda, Taufiq akhirnya lebih tertarik pada botol bekas. Selain lebih mudah ditemukan, tampilan botol bekas saat diubah ternyata lebih menarik.

Ada begitu banyak karya yang telah dilahirkan Taufiq melalui kreativitasnya dengan botol bekas. Ribuan karya telah lahir, baik berbentuk mobil, motor maupun robot. Pemilihan jenis ini ditentukan karena Taufiq menganggap lebih maskulin dan bernuansa "teknologi".

Karya besar Taufiq tersebut tentu tidak hanya sekedar hiasan semesta di rumahnya. Sudah begitu banyak karyanya terjual ke beberapa daerah, bahkan hingga ke Kanada. Harga yang dibanderol pada karyanya biasa berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 1,5 juta.

"Rp 1,5 juta itu robot yang dari botol bekas. Kenapa mahal? Karena itu kan ide, bagaimana orang bisa memandang itu sebagai robot bukan tumpukan botol," jelasnya.

Untuk mendaur ulang botol bekas, Taufiq menilai, siapapun sebenarnya dapat melakukan. Apalagi, dia melanjutkan, modal menbuatnya dapat disebut sangat kecil. Seorang individu hanya perlu menyediakan botol dan sendok plastik bekas, dua pylox, gunting dan pisau pemotong.

Karena sudah memiliki begitu banyak karya, Taufiq pun kini memutuskan mendirikan museum di Dau, Kabupaten Malang. Tak hanya ingin memamerkan dan mengkomersilkan, dia juga ingin memberikan pelatihan pada masyarakat lainnya.

Menurut Taufiq,  satu orang dikenakan Rp 35 ribu apabila datang dengan 20 orang per kelompoknya. Dengan modal sekecil ini, bukan hanya ilmu yang didapat tapi juga disediakan fasilitas lainnya. Selain makan siang, pengunjung dapat menikmati fasilitas wisata di lokasi Pondok Wisata B Walk, Dau, Kabupaten Malang.

Di sisi lain, Taufiq mengungkapkan, selama ini museum identik dengan barang klasik bernilai tinggi, kuno, mahal dan terbatas. "Dan aku di sini dibalik semua. Aku punya barang botol yang jelas tidak mahal dan ini tidak berharga," terangnya.

Dari segi edukasi, Taufiq tentu menginginkan pengunjung belajar sejarah. Namun sejarah di sini lebih menekankan betapa menyenangkannya hidup tanpa botol di masa lalu. Dia mengingat di mana dahulu membeli nasi cukup memakai rantang. Lalu membeli kecap botol di warung dan mendapatkan permen ketika dikembalikan.

Hingga saat ini, museum secara perlahan akan dipenuhi ribuan karya besar Taufiq. Gedung berukuran 20 x 20 meter telah tersedia di bagian depan Pondok Wisata B Walk Dau, Kabupaten Malang. Museum yang juga telah diresmikan oleh Bupati Malang, Selasa (11/7) ini hanya perlu menyempurnakan pada sisi layout-nya.

"Nanti dibukanya saat ulangan tahun Kabupaten Malang pada 28 November," tambah dia.

Let's block ads! (Why?)



Bagikan Berita Ini

0 Response to "Menengok Museum Daur Ulang Botol Bekas di Malang"

Post a Comment

Powered by Blogger.